30 July 2015

Lelaki Uighur dipenjara 6 tahun

Jakarta: Mahkamah di Indonesia semalam menjatuhkan hukuman penjara enam tahun terhadap seorang lelaki etnik Uighur kerana cuba menyertai sekutu Negara Islam (IS) Indonesia yang diketuai militan paling dikehendaki negara itu.
Ahmed Bozoglan yang berasal dari China ditahan pada September tahun lalu di pulau Sulawesi selepas dia dan tiga lagi lelaki cuba berjumpa ketua kumpulan militan Mujahidin Timur Indonesia, Santoso.
Tiga lelaki berkenaan dihukum penjara enam tahun pada awal bulan ini.
Kumpulan militan itu yang bersembunyi di hutan dianggap antara kumpulan pengganas yang masih mengancam Indonesia serta sering menyerang polis.
Santoso sebelum ini mengisytiharkan sokongan terhadap IS.
Hakim Houtman Tobing berkata, Bozoglan, 28, didapati bersalah dalam satu konspirasi jahat untuk menyertai IS dan masuk ke Indonesia secara haram menggunakan pasport palsu Turki.
“Tindakan tertuduh menimbulkan kebimbangan dan ketakutan,” katanya. - AFP
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 30 Julai 2015 @ 10:15 AM

AHMET Bozoglan (depan) ketika tiba di Mahkamah Daerah Jakarta, semalam.

14 July 2015

Polis China Tembak Mati Tiga Militan


Diterbitkan: Selasa, 14 Julai 2015 1:52 PM

POLIS China menembak mati tiga lelaki bersenjata pisau yang didakwa sebagai ahli kumpulan militan dari Xinjiang di bandar Shenyang.
Dalam operasi menahan suspek pada Isnin, seorang wanita turut mengalami kecederaan.
Xinjing merupakan kawasan penduduk Islam dan terdapat kumpulan militan yang sering melakukan serangan awam sejak beberapa tahun lalu.
Kenyataan mengenai polis menembak mati tiga lelaki berkenaan menjadi viral di laman sosial yang kemudian dilaporkan media  tempatan.
Kenyataan itu turut mendedahkan bahawa polis telah menahan seramai 16 orang yang dipercayai militan selepas melakukan operasi di Shenyang.

13 July 2015

Dakwa etnik Uighur mahu sertai jihad


Beijing: China semalam mendakwa lebih 100 etnik Uighur yang dihantar pulang oleh Thailand selepas melarikan diri dari negara itu dalam perjalanan untuk menyertai aktiviti keganasan di Asia Barat sebelum ditangkap di Thailand.

Thailand dikecam Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu dan pertubuhan hak asasi manusia selepas menghantar pulang 109 etnik Uighur ke China minggu lalu, tempat mereka berdepan dengan hukuman berat.

Agensi berita Xinhua memetik Kementerian Keselamatan Awam sebagai berkata, 109 etnik Uighur itu dalam perjalanan untuk menyertai ‘jihad’ di Turki, Syria atau Iraq.

Laporan itu juga mendakwa, siasatan polis China membongkar kegiatan memujuk etnik Uighur di wilayah Xinjiang untuk menyertai jihad dengan dibantu diplomat Turki di beberapa negara Asia Tenggara.

Etnik Uighur itu ditahan di Thailand lebih setahun lalu tetapi mendakwa mereka warga Turki. Sekumpulan 173 orang dihantar ke Turki selepas pihak berkuasa Thai memastikan mereka rakyat negara itu. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Isnin, 13 Julai 2015 @ 6:46 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/63962#sthash.nFtwKYSx.dpuf

12 July 2015

Thailand memulangkan 90 pengungsi Uighur ke Cina


Ameera Jum'at, 23 Ramadhan 1436 H / 10 Juli 2015 14:00
Thailand memulangkan 90 pengungsi Uighur ke Cina

Thailand memulangkan 90 pengungsi Uighur ke Cina

Muslim Uighur (file foto: Muslim News)

BANGKOK (Arrahmah.com) – Pemerintah Thailand menegaskan pada Kamis (9/7/2015) bahwa mereka telah mendeportasi 90 migran Uighur kembali ke Cina.

Juru bicara pemerintah Thailand Weerachon Sukondhapatipak mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon bahwa migran Uighur telah dideportasi “sesuai dengan protokol” karena mereka telah ditetapkan oleh pemerintah berasal dari Cina.

Weerachon menegaskan bahwa pemerintah Thailand juga telah memulangkan 173 Uighur kembali ke Turki pada tanggal 2 Juli.

Kongres Uighur Dunia mengatakan bahwa 90 pengungsi itu akan menghadapi penganiayaan dan hukuman dari pemerintah Cina setelah mereka kembali.

Kelompok hak asasi Human Rights Watch juga menyebut langkah itu sebagai “pelanggaran yang nyata.”

“Kami masih mencoba untuk mencari tahu detailnya, tetapi itu jelas melanggar hukum internasional karena Uighur bisa menghadapi pelanggaran HAM yang serius di China,” Sunai Phasuk, perwakilan dari Human Rights Watch di Thailand, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Pemerintah Thailand telah sering terlihat kurang memperhatikan pertimbangan kemanusiaan saat memulangkan orang di mana mereka bisa menghadapi pelanggaran HAM berat, seperti yang telah terjadi di masa lalu terhadap Rohingya atau Hmong,” tambahnya.

Massa dilaporkan telah berkumpul di luar konsulat Thailand di Istanbul setelah ada berita bahwa Uighur hendak dideportasi.

Beberapa orang dilaporkan telah berhasil memasuki gedung itu melalui jendela yang dirusak serta menurunkan bendera Thailand.

Kementerian Luar Negeri Thailand menkonfirmasikan serangan itu dalam sebuah pernyataan pada Kamis (9/7) sebelum mengirimkan peringatan kepada orang-orang Thailand yang tinggal di Turki tentang kemungkinan adanya serangan balas dendam.

(ameera/arrahmah.com)

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/07/10/thailand-memulangkan-90-pengungsi-uighur-ke-cina.html#sthash.ISXxAJcQ.dpuf

Thailand dituduh hendak memisahkan keluarga

Thailand dituduh hendak memisahkan keluarga
uighur-refugees


Siraaj Ahad, 25 Ramadhan 1436 H / 12 Juli 2015 11:11


BANGKOK (Arrahmah.com) – Organisasi Human Rights Watch (HRW) menuding pemerintah Thailand berniat memisahkan keluarga Uighur karena memberi pilihan bagi siapa yang akan pergi ke Turki dan siapa yang akan pergi ke Cina pada bulan ini.

Sunai Phasuk, perwakilan HRW Thailand, mengklaim dalam Bangkok Post edisi Sabtu (11/7/2015) bahwa anggota keluarga perempuan dan anak-anak dikirim ke Turki, sementara laki-laki dewasa di antara mereka -dan sebagian perempuan- dikirim ke Cina, lansir Anadolu Agency (AA).

“Segera setelah pemerintah Thailand dipuji karena mengirim lebih dari 170 wanita dan anak-anak yang berbahasa Turki ke negara pilihan mereka, pada saat yang sama pemerintah membuat kebalikan pada kebijakannya dengan mengirim para pria berbahsa Turki itu ke sebuah negara yang mereka tidak ingin pergi ke sana,” kata Phasuk dalam laporan itu.

HRW menekankan dalam sebuah pernyataan pada Jum’at (10/7) bahwa pendeportasian para imigran Muslim Uighur menghadapi resiko penganiyaan di Cina.

“Orang Uighur yang sebelumnya dipaksa dikembalikan ke Cina telah menghadapi penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, dan penuntutan pidana,” katanya.

Pemerintah Thailand mengelak tuduhan itu pada Sabtu.

“Kebijakan kami bukanlah untuk memisahkan para keluarga dan polisi imigrasi melakukan yang terbaik untuk menerapkan kebijakan itu,” kata Anusit Kunakorn, sekjen Dewan Keamanan Nasional Thailand, kepada Bangkok Post.

Kunakorn menegaskan bahwa 140 wanita dan 32 anak-anak Uighur dikirim ke Turki pada 2 Juli dengan dukungan pemerintah Turki.

Phasuk sebelumnya mengatakan bahwa 173 Uighur dikirim ke Turki, artinya -jika benar- hanya seorang pria di dalam pesawat itu.

Mereka “tidak terlibat dalam aktivitas ilegal,” katanya menggaris bawahi.

Dia mengatakan bahwa para imigran Uighur dikirim ke Cina pada Kamis termasuk 85 pria dan 24 wanita “yang diverifikasi sebagai warga Cina oleh pemerintah Cina.”

Menurut polisi imigrasi Thailand, saat ini ada 60 warga Uighur yang masih di tahan di Thaland -52 laki-laki, empat wanita dan empat anak-anak- yang sedang melalui proses “verifikasi kewarganegaraan”.

Thailand telah menghadapi kritik dan protes dari Turki, Uni Eropa dan Amerika Serikat di antaranya, bersama dengan UNHCR dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena tindakannya mendeportasi para imigran Uighur itu ke Cina, karena dikhawatirkan mereka akan menghadapi penganiayaan dari otoritas Cina.

Sementara itu departemen konsulat dan visa Thailand di Turki masih ditutup sejak diserang massa pada 8 Juli.

“Departemen konsulat ini akan dibuka kembali dan melanjutkan untuk melayani saat kondisi telah normal,” kata Kedutaan Besar Thailand di Ankara dalam sebuah pernyataan pada Jum’at.

Muslim Uighur yang mayoritas tinggal di Xinjiang telah mengalami kebijakan represif dari pemerintah Cina yang membatasi aktivitas keagamaan, komersial dan kebudayaan mereka. (siraaj/arrahmah.com)

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/07/12/thailand-dituduh-hendak-memisahkan-keluarga.html#sthash.RhdK4tu1.dpuf

11 July 2015

Thailand tolak desakan China

Bangkok : Thailand semalam berusaha mengendurkan kecaman antarabangsa berkait dengan keputusannya mengusir hampir 100 masyarakat Islam Uighur ke China.
Timbalan jurucakap kerajaan Kolonel Weerachin Sukhondhapatipak berkata, negara itu menolak permintaan Beijing supaya menyerahkan semua etnik Uighur yang ditahan di pusat tahanan di Thailand.
Tindakan Thai mengusir sebahagian pendatang itu dikecam Amerika Syarikat dan pelbagai pertubuhan hak asasi manusia serta mencetuskan tunjuk perasaan ganas di Turki, tempat sebahagian besar etnik Uighur menetap.
Penduduk Turki mempunyai hubungan erat dari segi budaya dan agama dengan etnik Uighur di China yang bercakap bahasa Turki.
Weerachin berkata, selari dengan persetujuan dan undang-undang antarabangsa Bangkok mengesahkan kerakyatan semua pendatang Uigur sebelum mengambil keputusan.
“China meminta semua etnik Uighur itu diserahkan kepadanya, tetapi kami berkata, kami tidak melakukannya,” kata Weerachin.
POLIS antirusuhan mengawal kedutaan Thai di Ankara ketika orang ramai melakukan demonstrasi membantah penghantaran pulang etnik Uighur ke China.
Menurutnya, pihak berkuasa negara itu mengenal pasti lebih 170 etnik Uighur sebagai warga Turki dan menghantar mereka pulang sejak bulan lalu sementara hampira 100 lagi dihantar ke China.
“Kami belum dapat mengesahkan 50 lagi pendatang Uighur itu,” kata Weerachin.
Polis Turki kelmarin menggunakan gas pemedih mata untuk menyuraikan kira-kira 100 penunjuk perasaan di kedutaan China di Ankara dan menyerang pejabat konsul Thailand di Istanbul.
Tunjuk perasaan itu diadakan sebagai membantah penindasan China ke atas etnik Uighur dan tindakan Thai menyerahkan 100 etnik itu kepada Beijing.
Artikel ini disiarkan pada : Sabtu, 11 Julai 2015 @ 5:08 AM
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/63624#sthash.sQ9eP3Ae.dpuf

10 July 2015

Ramai Muslim muda

Beijing: Walaupun diperintah Parti Komunis yang tidak mempercayai Tuhan, Islam masih mempunyai ramai penganut di China, terutama dalam kalangan generasi muda, menurut laporan dikeluarkan kelmarin.
Laporan itu mendakwa Islam mempunyai paling ramai penganut di bawah usia 30 tahun berbanding agama lain.
Di China, hanya lima agama diiktiraf iaitu Buddha, Katolik, Taoisme, Protestan dan Islam.
Hasil kaji selidik tahunan mengenai agama di negara itu menunjukkan penganut muda Islam paling tinggi iaitu 22.4 peratus.
Kaji selidik itu dilakukan Pusat Kaji Selidik di Universiti Renmin, Beijing.
Profesor pengajian Buddha di Jabatan Falsafah universiti itu, Wei Dedong yang terbabit dalam kajian itu berkata: “Rata-rata penganut Islam lebih ramai yang muda.
“Kebanyakan Muslim dari golongan etnik minoriti dan menjadi perkara biasa untuk wanita mereka melahirkan ramai anak.
“Anak berkenaan juga sudah pasti beragama Islam. Sebaliknya, jarang kita melihat orang dewasa memeluk Islam.”
Katanya, selepas penganut Islam, 22 peratus rakyat negara itu berusia bawah 30 tahun menganut Katolik.
Fahaman yang diamalkan secara tradisi oleh orang China seperti Buddha dan Taoisme masih popular dalam kalangan penduduk khususnya berusia 60 ke atas.
Penganut Buddha paling ramai daripada lima agama berkenaan.
Kerajaan tempatan di wilayah Xinjiang yang majoriti penduduknya Muslim, menyekat kakitangan kerajaan, guru dan kanak-kanak berpuasa ketika Ramadan.
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 9 Julai 2015 @ 9:40 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/63163#sthash.h69nRdbx.dpuf

8 July 2015

China nafi wujud masalah perkauman

SEBAHAGIAN penduduk Turki membakar bendera China ketika menunjuk perasaan di depan Konsulat China di Istanbul kerana memprotes layanan terhadap etnik Uighur di Xinjiang, kelmarin.
Beijing: Kementerian Luar China semalam berkata negara itu ‘tidak menghadapi masalah perkauman’ dan etnik minoriti Uighur di barat negara itu bebas mengamalkan ajaran agama mereka.
Kementerian berkenaan berkata demikian dalam satu kenyataan selepas protes anti-China di Turki berhubung layanan terhadap kumpulan etnik berkenaan oleh Beijing.
Hubungan antara China dan Turki keruh berikutan dasar Beijing terhadap masyarakat Uighur di Xinjiang.
Etnik itu - yang kerap dilihat mempunyai persamaan dari segi budaya dan agama dengan penduduk Turki, dilapor dilarang melakukan ibadah, termasuk berpuasa sepanjang Ramadan.
Jurucakap Kementerian Luar NHua Chunying berkata: “Masyarakat Uighur hidup dan bekerja dengan aman selain menikmati kebebasan beragama sejajar dengan perlembagaan.
“Isu ‘masalah etnik Xinjiang’ yang didakwa dalam beberapa laporan sebelum ini tidak wujud langsung.”
Ratusan penunjuk perasaan berarak di hadapan Konsulat China di Istanbul, Ahad lalu, membawa bendera dan melaungkan slogan anti-China di luar bangunan itu.
Turki minggu lalu berazam membuka pintunya kepada orang Uighur yang melarikan diri daripada penindasan di China.
China juga kurang senang dengan tindakan Turki menyuarakan kebimbangan terhadap sekatan yang dikenakan ke atas orang Uighur pada Ramadan.
Ratusan orang terbunuh sejak tiga tahun lalu dalam beberapa serangan di Xinjiang. Beijing menyalahkan militan Islam yang berusaha mewujudkan negara merdeka dikenali sebagai Turkestan Timur. - Reuters
Artikel ini disiarkan pada : Selasa, 7 Julai 2015 @ 8:56 AM
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/62599#sthash.aL0bF2tt.dpuf

4 July 2015

Hanya 3 terbunuh dalam gempa di Xinjiang semalam



ASKAR menjalankan kerja-kerja menyelamat di daerah Pishan, Xinjiang. - Foto AP
BEIJING: Gempa bumi kuat bermagnitud 6.5 yang menggegarkan wilayah barat China, Xinjiang semalam, menyebabkan tiga orang terbunuh dan 71 yang lain cedera manakala ribuan rumah runtuh, menurut pihak berkuasa.
Gempa itu melanda daerah Pishan di bandar Hotan di Xinjiang awal semalam.
Laporan awal media tempatan memberitahu enam orang meninggal dunia, tetapi Pusat Pentadbiran Gempa China hari ini mengesahkan hanya tiga terbunuh dan 71 cedera.

"Bangunan bergegar dan orang ramai bergegas menuju ke jalan-jalan," kata Jin Xingchang, seorang petugas kurier ekspres di bandar Hotan, kira-kira 15 kilometer dari Pishan.
Sementara itu, akhbar People's Daily melaporkan pihak berkuasa menganggarkan kerugian akibat gempa bumi itu ialah sekurang-kurangnya AS$30 juta (RM113 juta).
Majoriti etnik Islam Uighur di kawasan Pishan berada di pinggir selatan Taklamakan yang berhampiran sempadan dengan India. Kawasan itu kaya dengan sumber mineral termasuk arang batu, minyak mentah, gas asli dan mutiara. - AP

3 July 2015

Nafi halang Muslim beribadah


Beijing: Kementerian Luar China semalam menafikan negara itu menyekat kebebasan beragama selepas Turki menyuarakan kebimbangan terhadap laporan yang mendakwa ia menghalang etnik Uighur beribadah, termasuk berpuasa ketika Ramadan.

Kementerian Luar Turki sebelum ini menyuarakan rasa tidak puas hati kepada duta China di Ankara mengenai laporan kerajaan tempatan di Xinjiang menghaklang penduduk Islam wilayah itu berpuasa atau beribadah.

Jurucakap Kementerian Luar China Hua Chunying berkata, republik itu mahu mengekalkan hubungan baiknya dengan Turki.

“Turki digesa memperjelaskan kenyataan berkenaan. Sepatutnya anda maklum penduduk Xinjiang bebas menganut agama mereka dan melakyukan ibadah seperti diperuntukkan perlembagaan China.

“Namun kami berharap Turki dapat berbincang dengan kami berhubung isu itu untuk memastikan hubungan baik antara kedua-dua tidak terjejas,” katanya, semalam.

Bulan lalu, laman web media kebangsaan dan kerajaan di Xinjiang menerbitkan notis rasmi dan artikel mengarahkan anggota parti, kakitangan awam, pelajar dan guru terutamanya supaya tidak berpuasa pada Ramadan ini. sama seperti yang dilakukannya tahun lalu.

Parti Komunis China mendakwa mempertahankan hak kebebasan beragama, namun kerap memantau ketat aktiviti keagamaan dengan alasan mahu mengekang keganasan.

Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 2 Julai 2015 @ 6:44 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/61469#sthash.PtkAo0N2.dpuf